Setetes embun, Kebebasan dan secangkir Kopi


Setelah shalat subuh, aku berjalan keluar dari penginapan. Kuarahkan kakiku menuju ruang sosial yang dikenal dengan warung kopi. Di sana hanya ada penjaga warung dan sepasang anak muda.

Kupesan secangkir kopi dan semangkuk mie, di tambah sebutir telur untuk mengembangkan otot-ototku yang tak berisi. Ku lahap semangkuk mie dan secangkir kopi dengan penuh perasaan. Setelah selesai, aku kembali memesan kopi, namun kali ini di kemas dalam sebuah plastik.

Kulangkahkan kaki menuju penginapan kembali dengan hati berseri-seri. Dalam perjalanan aku bersyukur kepada Sang Ilahi, atas embun pagi, kebebasan dan secangkir kopi dipagi ini.

0 Responses to “Setetes embun, Kebebasan dan secangkir Kopi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: