Wajah Itu


Dingin merayap, meraba ke arah ruang sempit yang hanya diterangi lampu remang. Malam, tanpa bintang, hanya awan dan pekik suara lolongan anjing dari seberang jalan. Sebuah pojok, dalam bedeng 3×3. Pengap, lembab, dan bau. Seorang lelaki, duduk lesu di atas hamparan koran. Lelaki paruh baya setengah telanjang terdiam, dalam kosongnya pikiran. Air mengalir dari matanya yang sayu, perlahan tersenyum, seketika termenung dan melamun.

Cahaya kilat dan gemuruh, sekilas terlihat, sejenak terdengar bersautan, bermelodi dalam kelamnya langit malam dan irama hujan. Rintik-rintik air turun ke bumi. Satu persatu berjatuhan juga menjatuhkan diri, basahi tiap-tiap permukaan. Derit engsel terdengar, dari jendela triplek yang menari-nari oleh lantunan nyanyian-nyanyian
angin, mempersilahkan air hujan memasuki ruang kamar. Tetes air masuki celah atap seng bolong, mengisi malam tanpa kata.

Lelaki itu beralih, ke sisi lain bedeng. Tak luput dibawanya koran dalam
genggaman. Dipandanginya wajah yang terpampang di koran. Cantik, seksi, tak ada yang berubah pada wajah sang idola. 2 tahun berlalu, itu terakhir kali dia dengan sang idola bertatap muka, sebelum akhirnya terluka. Maria, nama wanita yang kini wajahnya sering menghiasi koran-koran ibu kota. Dulu, mereka merupakan sepasang jaka-dara yang terlena cinta, sebelum akhirnya Maria bertemu dan berkenalan dengan seorang pria yang katanya produser perusahaan
rekaman di Jakarta, sehingga Maria memutuskan untuk mengakhiri percintaanya demi
cita-cita menjadi penyanyi dangdut ibu kota.
1 Wajah itu
Ekspresi yang sama masih terlihat di wajahnya, mengarah ke sudut bedeng
manapun tetap sama. Tak ada yang tersisa, hanya bedeng satu-satunya yang ada. Itu pun
hanya sewa sementara. Setelah desanya dilanda banjir lumpur air panas perusahaan
pengeboran. Rumah dan seluruh isinya habis terendam, tinggal satu yang tersisa,
lukisan yang sama dengan wajah yang ada di koran.
Dia menangis sejadinya, tertawa sebisanya. Hembusan nafas pendek terdengar
dari ruang tenggorokan yang sempit di antara gemericik. Setetes demi setetes air
terjatuh menembus langit-langit, tertarik grafitasi, memanggil tiap tetes air, lalu turun
tepat di atas kepala, lelaki diam, tak bergeming, tak hiraukan apa yang jatuh di
kepalanya.
Benturan terdengar dari pojok ruang, yang dulunya bekas sebuah gudang. Lelaki
itu membenturkan kepalanya, entah apalagi yang kini ada dalam pikirannya. Setelah
puas, lelaki itu kembali membalikan badannya. Matanya mengarah pada sebilah pisau di
atas meja, diambilnya pisau, dipotongnya rambut yang tumbuh di kepalanya.
Helai demi helai berguguran bagai daun di musim semi tergeletak di atas lantai
semen yang retak. Dilemparnya pisau dari tangannya mengenai segelas kopi yang
tinggal setengah. Diambilnya sebatang rokok kemudian dibakar dan dihisap. Duduk di
antara jendela, seolah sudah saatnya untuknya tersadar. Hembusan demi hembusan
begitu diresapi, tak peduli polusi asap yang disebabkannya.
Wajah pucat terlihat di antara bara rokok. Hujan mulai mereda, hanya titik-titik
kecil yang tersisa. Suara tong sampah terdengar terjatuh, oleh seekor binatang kecil
berbulu yang sedang merayu di atas genteng licin yang basah. Rayuan-rayuan terdengar
begitu mengganggu, membawa kembali pikiran lelaki itu ke dalam sesuatu.
Pojok ruang kembali menjadi sebuah tempat ritual pelampiasan emosinya.
Terdiam membisu dengan tatapan kosong, pada sebuah lukisan wanita yang
menggantung di dinding. Sekilas bagai pinang dibelah dua, di antara kedua gambar
wanita itu. Tatapan kosong masih terlihat di matanya. Detak rotasi jarum jam terdengar,
diam membeku, tanpa kata-kata dan ekspresi yang berarti terlihat di ruang itu. Setelah
sekian lama, tatapan kosong mulai terisi.
Senyuman sinis terlihat di wajahnya, berdiri hampiri lukisan wanita itu, diambil
dan dicium wajah lukisan itu, menari-nari dalam pelukan dengan iringan alunan musik
tanpa nada dan syair. Tak lama tarian terhenti, dilemparkannya lukisan itu ke salah satu
pojok ruangan. Dia berteriak dan menangis menuju pojok ruang dan menginjak-injak
lukisan itu.
Di pojok ruangan, dia duduk dengan kedua lutut di dada, menundukan kepala
seraya kembali menangis tersendu. Diambil sebuah lipatan kertas yang tersimpan di
saku celananya, dibukanya dan kembali dibacanya. Penyesalan terlihat dari wajahnya,
kekecewaan yang teramat terpancar dari raut mukanya. Entah apa isi yang tersirat di
dalamnya, yang pasti bukan seperti apa yang diharapkannya.
Habis sudah semua sumber daya air matanya terkuras, hingga tak ada lagi air
yang tersisa di pelupuk matanya, tangisannya kering seolah tak bermakna dan bernada.
Putus asa muncul dalam benaknya hadirkan solusi-solusi hitam. Seutas tali tambang
menggantung, bagai sebuah ide cemerlang memberi solusi dalam kepalanya.
Diambilnya tali tersebut, diikatkan di tiang antara ruang kosong. Patah arang
terlihat dari wajahnya, diambil sebuah bangku, diletakannya di bawah tali yang
terpasang. Dia terdiam, dalam pikirannya dia harus akhiri malam ini. Keputusan telah
bulat. Dalam keheningan malam dia pun menaiki kursi yang telah siap dan mengikatkan
tali itu. Malam semakin sunyi dan dingin ketika kaki lelaki itu sudah tidak di atas kursi.
Lelaki itu mengakhiri malamnya dengan kedamaian, di bawah lukisan yang
menggantung, dia tertidur.

0 Responses to “Wajah Itu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: