Kerja Membaca


Krisis ekonomi terjadi sejak 1998 hingga saat ini, boleh dikatakan masih memasung ekonomi negara kita. Krisis moral semakin berani diperlihatkan para koruptor-koruptor besar maupun koruptor kecil. Bencana bertubi-tubi datang dan menghantam bangsa ini, begitu dirasakan rakyat, di tengah bencana kelaparan, dan konversi konsumsi bahan makanan pokok.

Konversi tersebut bukan merupakan program pemerintah, namun menurunnya daya beli yang tidak diimbangi dengan penurunan harga bahan pokok, bahkan sebaliknya. Kelak, dalam sejarah akan tercatat, satu makanan pokok bernama nasi aking.

Kekeringan, kebakaran dan banjir, sic et non, suatu kontra bencana yang bagi rakyat Indonesia sudah tak ada perbedaannya. Semuanya sama, bahkan ketika keduanya tidak ada.

Pergantian pemerintahan, sedikit memberi titik cerah pada masa depan yang buram bahkan suram. Sedikit kehangatan yang diberikan tak cukup untuk melepaskan rakyat dari belenggu kebodohan dan kelaparan.

Bagaimana tidak, rakyat dihimbau dapat mengisi otaknya di tengah kosongnya perut dan dahaganya kerongkongan. Pembebasan biaya pendidikan tidak diikuti pembebasan biaya buku, dan praktik pungli. Dengan dalih, demi proses pendidikan.

Jadi, pendidikan di negara ini hanya untuk yang mampu. Bagi yang tak mampu tentu juga akan mendapatkan pendidikan, pendidikan yang miskin sarana dan prasarana, sekedar bisa baca dan tulis. Sehingga pendidikan jaman sekarang tak berbeda dengan pendidikan yang diterapkan ketika bangsa ini masih dijajah Belanda.

Akses pendidikan terbuka bagi siapa saja yang mampu secara biaya, sehingga yang berkuasa, tentunya memiliki biaya, minimal sudah “pintar” dan akan bertambah pintar. Sedang yang miskin, yang bodoh, semakin bodoh hingga anak keturunannya.

Tak ada akses bagi yang miskin. Dan pemerintah cukup dengan menghimbau dan membuat perangkat peraturan yang berlaku di atas kertas, tapi tidak pada pelaksanaanya. Pemerintah, sepertinya tidak tertarik dengan masalah pendidikan bagi bangsanya sendiri, terutama bagi rakyat miskin.

Masalah pendidikan sepertinya hanya menjadi masalah kecil persoalan bangsa. Investasi dan korupsi, menjadi agenda utama yang harus segera diatasi, dan seperti kita ketahui keduanya hingga saat ini belum teratasi.

Investasi diharapkan mengurangi dan memperbaiki perekonomian bangsa secara makro. Investor asing berdatangan dan membangun bisnisnya di negara kita, sehingga negara mendapatkan pemasukan berupa pajak. Semakin banyak investasi, banyak pula pajak yang dihasilkan.

Banyaknya investasi akan membutuhkan penyerapan tenaga kerja. Dan rakyat kita akhirnya dapat bekerja. Dengan bekerja rakyat dapat mengurangi kesulitan ekonominya sendiri. Dari pagi hingga sore rakyat terus bekerja, seluruh waktu, energinya dihabiskan untuk bekerja, lalu kapan rakyat memiliki waktu untuk belajar, paling tidak untuk membaca.

Meskipun ada, tersediakah akses untuk mendapatkan informasi secara murah atau mungkin gratis. Akses yang mendukung pembelajaran bagi rakyat kecil yang siangnya bekerja dan hanya malam hari memiliki waktu untuk belajar.

Kiranya pemerintah menyediakan perpustakaan-perpustakaan di setiap daerah hingga di tingkat kecamatan. Dengan waktu akses yang disesuaikan dengan waktu yang dimiliki para pekerja.

Sementara ini perpustakaan hanya dapat diakses pada jam-jam kerja saja. Sementara, pada waktu yang sama para pekerja sedang bekerja. Bagaimana mungkin rakyat kita yang menjadi pekerja dapat menumbuhkan dan mengembangkan dirinya.

Memang tak mudah, namun bagaimana mungkin rakyat bisa pintar jika tidak dibuka kesempatan dengan tersedianya pusat informasi yang terjangkau Akses internet sudah begitu familiar di negara kita. Namun untuk dapat mengaksesnya dibutuhkan saran-sarana yang cukup mahal. Dibutuhkan komputer dan jaringan yang telah tersedia, belum lagi kendala yang akan dihadapi ketika melakukan aksesnya.

Rakyat kita belum terbiasa, secara pembelajaran untuk bisa harus belajar, tapi dengan begitu berarti masyarakat telah melangkahi proses belajar. Hal yang paling penting dalam pembelajaran dan penambahan pengetahuan adalah pembiasaan membaca.

Budaya membaca perlu ditegakan di Republik ini. Membaca merupakan modal awal bagi untuk sebuah pembelajaran untuk menambah pengetahuan sehingga dapat menumbuhkan dan mengembangkan diri segala potensi diri yang ada dan dimiliki.

Kita ini ibarat manusia yang membawa korek tapi tak mampu menyalakan api, karena kita tidak tahu bahwa korek dapat menghasilkan api, karena kita tak tahu apa itu korek, terlebih bagaimana menggunakan korek tersebut supaya dapat menghasilkan api.

Budaya membaca dapat membuka mata rakyat pada dirinya dan ada apa di lingkungannya sehingga mereka menyadari potensi apa yang ada dan dimilikinya. Setelah penyadaran akan diri, barulah bagaimana menggunakan potensi dan sumberdaya yang ada dapat membawa mereka atau rakyat menumbuhkan dan mengembangkan dirinya ke arah lebih positip. Sehingga tiap-tiap perkembangan individu dapat memberikan kontribusinya kepada lingkungan sekitarnya dan terus berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu bangsa dan negaranya.

Tak semudah membalikkan telapak tangan. Memang sulit merubah suatu kebiasaan, namun hal tersebut bukan tidak mungkin, kita, rakyat Indonesia dan siapapun kita mulai saat ini harus bangun. Ingatkan pada mereka yang sibuk bekerja, untuk tetap bekerja dan kembali belajar.

Jika tak ada waktu untuk belajar, relakah mereka seumur hidupnya hanya untuk bekerja demi keuntungan orang lain. Bekerja memberi keuntungan bagi kita sebagai pekerja terlebih bagi yang memperkerjakan kita. Namun dengan membaca kita dapat memahami diri kita, kita dapat melihat dunia, dan ternyata mengisi dunia tak hanya dengan bekerja. Membaca dapat membawa kita memahami dunia dan kehidupan ini.

Yang bekerja jangan tinggalkan membaca. Kemiskinan dan pengangguran terjadi bukan hanya tidak adanya penyerapan tenaga kerja, namun terlebih ketidaktahuan harus berbuat apa.

Selama ini, pola pikir kita setelah selesai sekolah kita bekerja, dan kita memahami bekerja hanya dengan melakukan pekerjaan di perusahaan orang lain. Seharusnya kita memahami berkerja sebagai berusaha, suatu aksi untuk mendapatkan sesuatu yang dapat memenuhi keperluan kita sehari-hari baik dengan bekerja untuk orang lain ataupun bekerja untuk diri sendiri.

Segala sesuatunya telah ditentukan, begitupun dengan rejeki kita, sudah ditentukan hanya saja diperlukan ikhtiar. Rejeki kita ibarat buah yang masak dan menggantung di pohon. Terkadang buah jatuh sendiri, tapi menunggu buah jatuh sendiri akan membuat kita lapar, kita perlu perlu usaha dengan menggoyangkan batang pohonnya. Dan buah-buahan pun akan berjatuhan.

Membaca dapat memberitahukan berbagai macam cara bagaimana agar buah di pohon jatuh dengan mudah atau berjatuhan lebih banyak. Selama kita masih diberi kesempatan mari kita budayakan membaca agar kita lebih mengenal diri kita sendiri, lingkungan kita dan dunia kita atau bahkan kita dapat mempersiapkan kehidupan kita nanti.



%d bloggers like this: