Cinta Lagi …


Terlalu lama aku menghindari segala sesuatu yang beraroma cinta. Namun apa boleh buat, dalam tulisan ini, pikiran dan perasanku kembali menceburkan diri ke dalam kolam berisi percikan cinta.

Sebagian manusia percaya, cinta datangnya dari mata turun ke hati. Lalu bagaimana dengan yang matanya buta, apakah mereka tidak memiliki cinta? Ternyata tidak, fakta menunjukan hal yang sungguh berbeda. Ada pasangan tunanetra yang kedua-duanya buta, hidup dengan bahagia, memiliki 3 anak yang tumbuh normal. Dan ternyata cinta tak harus datang dari mata, lalu darimanakah semua itu bermula?

Perasaan cinta tak semudah ketika kita mengurai rumus-rumus fisika ataupun matematika. Jika saja dalam kurikulum pendidikan nasional ada mata pelajaran cinta, tentu saja mata pelajaran cintalah yang termasuk paling sulit dan rumit. Jangankan Einstein, Samson saja kalah kalau berurusan dengan cinta. Dan seluruh duniapun tahu apa yang menyebabkan Superman mengundurkan diri menjadi superhero, apalagi jika bukan karena Cinta.

Cinta tak dapat diurai dengan logika. Cinta adalah urusan estetika, rasa, dan jiwa. Letaknya di dalam rongga dada. Tepatnya dalam segumpal daging berbentuk cemara, yang kita kenal dengan sebutan hati. Maka dari itu manusia arif-bijak selalu mengingatkan agar hati-hati soal cinta. Bayangkan jika cinta letaknya di dalam otak, apa yang harus diingatkan manusia arif-bijak soal cinta?

Ketika cinta membara, dunia seperti surga. Semuanya terasa indah, begitu bahagia, langkah begitu ringan. Ketika cinta merana, dunia menjadi neraka, hidup begitu menyiksa, seolah-olah kiamat sudah dekat. Cinta, begitu hebat daya yang kau punya.

Cinta, ibarat pedang bermata dua. Memiliki sisi baik-buruk, positif-negatif yang kesemuanya diserahkan pada tiap-tiap yang merasakan dan menjalaninya. Sama seperti yang lainnya, cinta tak luput dari apa yang kita kenal dengan konsekuensi, cinta juga membutuhkan perjuangan, perjuangan yang meminta pengorbanan, pengorbanan yang dijalani dengan penuh keberanian, keberanian menghadapi jalan gelap yang berliku-liku dan tanda tanya. Hanya satu perbekalan untuk menempuh itu semua yaitu sebuah keyakinan, keyakinan sebuah cinta.

Jika cinta tak harus memiliki bagaimana dengan dimiliki?

0 Responses to “Cinta Lagi …”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: