Antre 1


Entah, siapa yang memiliki ide pertama kali. Pagi-pagi, orang-orang berdiri berderet mengantri. Satu persatu keluar-masuk antrian demi sebuah ketertiban. Di bank, kantor pos, dan loket-loket serta fasilitas umum lainnya tidak dapat dipisahkan dengan budaya mengantri.

Sebuah budaya manusia untuk mengatur dan menata kehidupannya. Solusi cerdas dalam memfasilitasi berbagai kepentingan. Takpeduli usia, jenis kelamin, dan jabatan. Semuanya harus mengantri. Siapa cepat dia yang akan dilayani pertama kali. Siapa yang terlambat, sudah pasti harus bersabar mengantri.

Tak ada yang dizhalimi dalam budaya antri. Secara sadar, manusia melihat dan merasakan akibat dari sebab yang dilakukannya. Disebabkan ada orang lain yang lebih dahulu, mengakibatkan kita harus menunggu giliran. Sebuah kesadaran diri secara ikhlas maupun terpaksa diterapkan.

Terkadang, jumlah antrian begitu panjang. Bahkan hingga berjam-jam seseorang harus berdiri dalam antrian. Secara fisik tidak semua orang tahan berdiri berlama-lama. Yang muda tentunya lebih tahan berdiri lama dibandingkan dengan yang sudah tua. Terlebih jika ada wanita yang sedang hamil akan merasakan sangat menderita berdiri lama dalam antrian, bisa jadi wanita tersebut melahirkan dalam antrian.

Jaman berubah, teknologi semakin canggih, dan pikiran manusia semakin berkembang. Gaya menajemen pun berubah, para manager melihat kenyataan ini, terobosan baru dalam mengantri diperkenalkan. Seseorang tinggal mengambil nomor antrian,  kemudian duduk menunggu giliran sesuai nomor yang didapat. Suatu cara yang cerdas dan manusiawi. Berkat teknologi dan perkembangan pemikirannya dalam memperbaiki peradaban manusia.

Fakta di lapangan sungguh berbeda. Belum semua pihak manajemen menerapkan terobosan tersebut, Khususnya perusahanan besar yang telah multinasional. Dapat dimaklumi jika hal tersebut tidak diterapkan dalam perusahaan kecil, karena faktor biaya yang cukup besar dalam memfasilitasi semuanya. Namun, untuk sebuah perusahaan multi
nasional, perlu kita pertanyakan kinerja manajemennya.

Efisiensi dan efektifitas. Salah satu alasan menajemen tidak melakukan terobosan antri secara manusiawi. Penekanan biaya dengan mengorbankan sisi manusia. Sebuah kacamata efektifitas kerja paksa.

Manajemen telah gagal dalam melihat kondisi tersebut. Kegagalan melihat manusia sebagai manusia. Manusia dianggap seperti alat. Berbaris, berdiri, tanpa diberikan solusi yang lebih baik. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam melihat situasi.

Jaman telah berubah, tapi mengapa manajemen masih melakukan dengan cara lama, cara purba yang mengandalkan fisik bukan memanfaatkan kemajuaan teknologi yang katanya untuk kesejahteraan manusia.



%d bloggers like this: